Manuskrip "Bahjatul 'Ulum" Warisan Budaya Bangsa
Istilah
lain dari "manuskrip" adalah naskah. Secara umum, naskah merupakan bahan tulisan tangan. Kata ‘naskah’ di sini dimaksudkan
sebagai karya tertulis produk masa lampau, sehingga dapat disebutkan sebagai
naskah lama. Istilah lama atau klasik yang disandingkan pada kata ‘naskah’ itu
digunakan untuk menunjukkan ukuran waktu. Adapun untuk penetapan waktu
keklasikannya suatu naskah itu tidak dapat diketahui secara pasti.
Di dalam naskah
terkandung teks yang memuat berbagai macam hal,
seperti pola pemikiran, tingkah laku, adat istiadat, sistem pemerintahan,
sistem kepercayaan, pendidikan, tradisi, dan lain sebagainya yang mengandung
nilai-nilai luhur. Bahkan naskah merupakan dokumen bangsa yang menarik untuk
diteliti, dilestarikan, dan disebarluaskan. Dengan demikian naskah menjadi
sesuatu yang penting untuk diketahui dan digali informasi yang terkandung di
dalamnya. Dan naskah-naskah itu dilihat sebagai hasil budaya cipta rasa.
Jumlah naskah
yang ada di nusantara ini sangat banyak, akan tetapi tidak banyak peneliti yang
menjadikan naskah sebagai objek kajiannya. Artinya, masih jarang sekali orang
yang mau mengkaji naskah. Naskah biasanya disimpan pada pelbagai (katalog) di
perpustakaan dan museum yang terdapat di berbagai negara. Kecuali Indonesia,
naskah-naskah teks Nusantara pada saat ini sebagian tersimpan di museum-museum
di 26 negara, yaitu di (Malaysia), (Singapura), (Brunai), (Srilangka),
(Thailand), (Mesir), (Inggris), (Jerman Barat), (Jerman Timur), (Rusia),
(Austria), (Hongaria), (Swedia), (Afrika Selatan), (Belanda), (Irlandia),
(Amerika Serikat), (Swis), (Denmark), (Norwegia), (Polandia), (Cekoslowakia),
(Spanyol), (Italia), (Perancis) dan (Belgia). Sebagian naskah lainnya masih
tersimpan di koleksi perseorangan, misalnya naskah Melayu, Aceh dan Jawa.
Selain itu, naskah Nusantara yang berbahasa Arab pun tidak kalah banyak jumlahnya.
Di perpustakaan Nasional Jakarta misalnya, terdapat tidak kurang dari 1000 buah
naskah Arab, sementara di Dayah Tanoh Abee, Seulimeum Aceh, terdapat tidak
kurang dari 400 naskah. Di luar negeri, naskah-naskah Arab terdapat antara lain
di Universitas Bibliotheek, Leiden, Belanda, yaitu sekitar 5000 buah naskah
Arab. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang telah terdata, sedangkan
naskah-naskah Arab yang tersimpan di perseorangan itu belum seluruhnya terdata.
Salah satu naskah yang tersimpan pada perseorangan adalah naskah
(manuskrip) "Bahjatul 'Ulum". Tebal naskah
ini sebanyak 41 halaman dalam kondisi yang masih terbaca, hanya ada sebagian
kertas yang rusak akibat termakan oleh serangga, dan ada beberapa kata yang
tidak jelas tintanya. Hal ini disebabkan oleh usianya yang sudah terlalu lama.
Manuskrip "Bahjatul 'Ulum" merupakan warisan budaya bangsa
Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur. Manuskrip ini berasal dari Ds.
Matagara, Kec. Tigaraksa, Kab. Tangerang, Banten. Naskah ini merupakan salinan,
nama penyalinnya tertulis di halaman terakhir naskah, beliau adalah Ki Thoir.
Teks yang tertulis di dalam naskah ini menggunakan huruf dan bahasa Arab.
Kertas yang digunakan yaitu kertas Eropa. Yang mana pada kertas tersebut
terdapat gambar setelah diterawang melalui cahaya yang memantul. Dengan
mengetahui kertas yang digunakan, maka dapat diperkirakan bahwa usia naskah ini
berkisar + 300 tahun.
Awalnya, naskah ini dipakai oleh H. Junaedi, alm. Adik bungsu H. Junaedi ini bernama Hj. Nursinah,
ia memiliki 5 orang anak, namun suaminya telah meninggal. Suami Hj. Nursinah
bernama H. Nahrowi, alm. Beliau adalah kakak kandung dari ibu saya. Anak kedua
dari Hj. Nursinah inilah teman seperjuangan saya sewaktu belajar di masa
Aliyah, dia bernama Masitoh. Dan dari dialah saya mendapatkan info bahwa ada
naskah yang masih tersimpan. Dia juga yang memberikan informasi tentang naskah
ini, dengan cara wawancara.
Di dalam teks yang termuat pada naskah terserbut, terdapat banyak
kesalahan tulis. Kesalahan penyalinan yang ada pada teks itu mencapai 1.112 bentuk kesalahan, dengan rincian: 416
transposisi, 309 omisi, 251 substitusi, 250 adisi, 39 lakuna, 37 ditografi, dan
1 haplografi. Transposisi, omisi,
substitusi, adisi, lakuna, ditografi dan haplografi merupakan istilah-istilah
yang terdapat dalam ilmu filologi, yaitu ilmu yang menjadikan naskah sebagai objek
kajiannya.
Isi kandungannya
tentang keagamaan, yang tersusun dari pengertian iman, cara beriman kepada
Allah swt., beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab Nya, beriman
kepada para Nabi dan Rasul, beriman kepada hari akhir, beriman kepada qadha dan
qodar, baik dan buruknya.
Jumlah bentuk kesalahan tulis beserta isi kandungan teks yang ada di dalam
naskah tersebut, diperoleh melalui penelitian filologi dengan menggunakan
metode standar. Metode
standar merupakan metode yang digunakan
untuk meneliti naskah tunggal. Artinya, naskah yang dimiliki oleh
peneliti hanya satu buah. Metode standar adalah suatu usaha perbaikan dan
meluruskan teks sehingga terhindar dari berbagai kesalahan dan
penyimpangan-penyimpangan yang timbul ketika proses penulisan. Tujuannya ialah
untuk menghasilkan suatu edisi yang baru dan sesuai dengan kemajuan dan
perkembangan masyarakat misalnya dengan mengadakan pembagian alinea-alinea,
pungtuasi, huruf besar dan kecil, membuat penafsiran (interpretasi) setiap
bagian atau kata-kata yang perlu penjelasan, sehingga teks tampak mudah
dipahami oleh pembaca modern.
Sedangkan filologi adalah ilmu yang berusaha mengungkapkan hasil budaya bangsa
melalui kajian bahasa pada peninggalan dalam bentuk tulisan. Istilah ini sudah
dikenal sejak abad ke 3 sebelum Masehi oleh sekelompok ahli di kota Iskandariah
yang dikenal sebagai ahli filologi. Yang pertama-tama memakainya adalah
Erastothenes. Pada waktu itu, mereka berusaha mengkaji teks-teks lama yang
berasal dari bahasa Yunani. Penelitian filologi merupakan salah satu cara untuk
meneliti bahasa melalui tiga bidang, yaitu: linguistik, filologi, dan ilmu
sastra (kesusastraan). Dalam perkembangan lebih lanjut, filologi ternyata hanya
memperhatikan makna kata dan berusaha untuk memurnikan teks dari
kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam proses penyalinan. Kegiatan filologi yang menitikberatkan kepada bacaan yang salah ini
disebut sebagai filologi tradisional. Sedangkan filologi modern adalah kegiatan
filologi yang menitikberatkan pengkajiannya pada proses pembetulan yang harus
dikaitkan dengan ilmu bahasa, sastra, budaya, keagamaan dan tata politik yang
ada pada zamannya.
Di Belanda,
istilah filologi berarti ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan studi teks
sastra atau budaya yang berkaitan dengan latar belakang bkebudayaan yang
didukung oleh teks tersebut. Di Indonesia, yang dalam sejarahnya telah banyak
dipengaruhi oleh bangsa Belanda, arti filologi mengikuti penyebutan yang ada di
negeri Belanda, ialah suatu disiplin yang mendasarkan kerjanya pada bahan
tertulis dan bertujuan mengungkapkan makna teks tersebut dalam segi kebudayaan.
Arti filologi di Indonesia mengikuti arti yang tradisional, tetapi dalam
perkembangannya ke arah modern.
Dalam bahasa
Arab, filologi adalah ilmu “tahqiq al-nushush”, Az-Zamakhsyari misalnya
menyebutkan dalam kitab “asas al-balaghah” sebagai berikut: “Mentahqiq sebuah
teks atau nash, yaitu melihat sejauh mana hakekat yang sesungguhnya yang
terkandung di dalam teks itu. Mengetahui suatu berita dan menjadi yakin akan kebenarannya.
Oleh sebab itu yang dimaksud dengan “tahqiq” dalam bahasa ialah pengetahuan
yang sesungguhnya dan berarti juga mengetahui hakekat suatu tulisan. Dengan
demikian tahqiq merupakan usaha keras untuk menampilkan karya klasik itu dalam
bentuk yang baru dan mudah dipahami.
Sebelum saya meneliti naskah "Bahjatul 'Ulum", ternyata sudah ada
masyarakat muslim Banten yang menggunakannya dalam acara pengajian. Namun,
meski naskah ini dipakai oleh bangsa Indonesia, naskah ini juga terdapat di
perpustakaan Yale University, Amerika Serikat dan Universiti Brunei Darussalam.
Artinya, warga asing yang penduduk muslimnya lebih sedikit pun menyimpan dan
menjaga naskah ini, jangan sampai naskah-naskah lain yang saat ini ada di
museum ataupun di tangan perseorangan, berserakan tak terjaga. Oleh karena itu,
mari kita jaga dan lestarikan naskah kuno (manuskrip) yang ada di negeri kita
ini, agar pemikiran kita tak terjajah. Jangan sampai perhatian kita terhadap
barang kuno ini terkalahkan oleh perhatian kita terhadap barang-barang modern
yang kecanggihannya semakin meningkat. Karena banyak rahasia yang terdapat
dalam manuskrip-manuskrip lain, bukan hanya tentang keagamaan.
Sumber:
- Eva
Syarifah Wardah, Filologi,
Serang; IAIN SMH Banten, 2013
- Eva Syarifah Wardah, Konservasi
dan Restorasi: Kajian Kodikologi terhadap Naskah-naskah Klasik Keislaman di
Banten, 2011
- Siti Baroroh Baried, dkk., Pengantar Teori Filologi, Jakarta; Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1985
- Nabilah
Lubis, Naskah, Teks dan Metode Penelitian
Filologi, Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia, 2007Naskah ini telah diterbitkan oleh Koran Kabar Banten dan Radar Banten pada bulan Oktober 2015
Mbak boleh tau kitab nya kaya apa? Boleh sy mnt alamat emailnya?
BalasHapusBoleh, ini alamat email saya sayyidahmulyanie@gmail.com
BalasHapusNnt sy kirim gambar kitab'y sperti apa, lewat email
Terima Kasih mbak, barusan sudah saya email. mohon balasannya ya :)
BalasHapusklo boleh sy jg ingin tahu bagaimana kitab ayng ada pada anda? ay jg barusan dapat manuskrip kitab serupa
BalasHapusBoleh, sy kirim fotonya via email atau bagaimana?
Hapus