Ziaroh ke Makam Raden Ayu Siti Khadijah di Bali
Akhir
bulan Agustus 2017 ini merupakan 'weekend' yang paling menyenangkan bagi para
santri Pesantren Peradaban Dunia Jagat 'Arsy, khususnya kelas VII, VIII, X dan
XI. Bagaimana tidak, mereka yang berjumlah 68 orang (putra/i) itu memiliki
waktu yang cukup panjang untuk belajar di luar kelas, yaitu selama 10 hari. Ya,
belajar. Belajar mengenal para wali Allah dengan berziaroh ke makam-makamnya.
Ada 12 makam wali Allah yang kami kunjungi di Pulau Jawa dan 3 makam wali Allah
yang kami kunjungi di Pulau Bali. Di Bali ada makam wali? Sedikit atau banyak
diantara pembaca mungkin ada yang bertanya demikian. Karena saya pribadi pun
memunculkan pertanyaan demikian saat Koordinator menjelaskan destinasi selanjutnya.
Raden
Ayu Pemecutan adalah salah satu dari tiga makam yang kami kunjungi di Bali.
Siapakah dia? I Dewa Ayu Maderai atau Raden Ayu Pemecutan adalah putri dari
kerajaan Pemecutan. Hindu adalah agama ibu dan bapaknya sebagaimana agama
mayoritas penduduk Bali. Suatu hari pada masa mudanya, beliau ditimpa sakit
keras yang berkepanjangan. Hingga sayembara pun digelar demi kesembuhan putri
tercinta. Raja dan Ratu Pemecutan menggelar sayembara bahwa barangsiapa yang
mampu menyembuhkan putrinya, apabila dia perempuan maka dia akan diangkat
menjadi seorang anak. Dan apabila yang dapat menyembuhkan putrinya itu
laki-laki, maka keduanya sepakat untuk menjadikan laki-laki itu sebagai suami
untuk putrinya (dinikahkan). Sayembara ini disebarkan oleh para 'pepateh'.
Hingga
akhirnya, datanglah kepada keduanya seorang raja muslim bernama Raja Diningrat
yang berasal dari Bangkalan, Madura. Raja muslim ini ternyata mampu
menyembuhkan sang putri, I Dewa Ayu Maderai. Sebagaimana yang telah dijanjikan
bahwa jika ada seorang lelaki yang dapat menyembuhkan sang putri, maka ia akan
dinikahkan dengannya. Pernikahan ini mengubah status agama sang putri I Dewa
Ayu Maderai atau Raden Ayu Pemecutan, dari agama Hindu menjadi penganut agama
Islam karena suaminya yang berstatus sebagai muslim, namanya pun berubah dari I
Dewa Ayu Maderai atau Raden Ayu Pemecutan menjadi Raden Ayu Siti Khadijah.
Singkat
cerita, suatu hari di Pura Pemecutan ada upacara besar. Raden Ayu Siti Khadijah
pun datang ke Pura Pemecutan dari Bangkalan, Madura. Ketika tiba waktu maghrib,
Raden Ayu Siti Khadijah minta disediakan satu ruangan untuk mendirikan sholat
didampingi oleh para 'pepateh'. Beberapa diantara rukun sholat adalah menutup
aurat dan mengucapkan takbir. Mukena adalah pakaian khusus yang digunakan
wanita muslim untuk menutup aurat ketika mendirikan sholat, biasanya mukena yang
digunakan oleh para muslimah mayoritas berwarna putih. Adapun ucapan takbir itu
berbunyi 'Allahu Akbar'. Namun para 'pepateh' tercengang ketika melihat sang
putri mengenakan pakaian serba putih (mukena) dan mendengar ucapan takbir yang
disuarakan oleh sang putri dari Pura Pemecutan yang sedang diawasinya. 'Allahu
Akbar' terdengar seperti 'Mekeber'. Karena di Bali, istilah 'mekeber' itu
identik dengan ilmu hitam. Lalu bergegaslah para 'pepateh' menghadap sang raja
untuk menyampaikan hal demikian.
"Wahai
Raja, sesungguhnya aku mendengar ada seseorang di ruangan sana yang mengucap
'mekeber' 'mekeber' 'mekeber'" ujar pepateh kepada Sang Raja
"Jika
memang benar demikian yang kamu dengar, silahkan bunuhlah dia!" perintah
Sang Raja kepada Pepateh setelah menerima laporan yang mengejutkan
Lalu
pepateh pun menemui Raden Ayu Siti Khadijah dan menyampaikan apa yang
diperintahkan oleh Sang Raja.
"Silahkan
bunuhlah saya jika memang itu yang diperintahkan oleh Sang Raja. Namun, apablia
darah saya berbau harum setelah dibunuh hal itu menandakan bahwa saya tidak
bersalah. Sebaliknya, apabila darah saya baunya kurang bagus hal itu menandakan
bahwa saya bersalah."
Akhirnya
dibunuhlah ia dengan senjata sampai meninggal dan mengalirkan aroma darah yang
berbau harum. Karena status beliau sudah sebagai muslim, sedangkan kedua
orangtuanya Hindu, sang ayah, Raja Pemecutan meminta tolong kepada masyarakat Kampung
Islam Kepaon untuk membantu menguburkannya secara islami. Beliau dimakamkan
tidak jauh dari letak Pura Pemecutan bahkan letak makamnya dikhususkan, karena
rasa bersalah ayahnya yang telah menyangka bahwa ia memiliki ilmu hitam.
Itulah
sejarah singkat yang dipaparkan oleh seorang 'guide' kepada kami setelah kami
berziaroh ke makam Raden Ayu Siti Khadijah. Namun, ada yang mengganjal yang
kami lihat saat itu. Ya, dari makam wanita mulia ini ternyata tumbuh sebuah
pohon besar yang konon pohon itu tumbuh dari rambut beliau, dari dalam makam.
Karena, berkali-kali ditebang, pohon itu tetap tumbuh dan sangat jelas terlihat
batangnya mucul dari permukaan makam beliau.
Jadi,
Bali bukan hanya destinasi wisata dengan
panorama alam yang sangat menakjubkan. Jauh di atas itu, terdapat banyak budaya
yang dapat kita ambil hikmahnya.
Komentar
Posting Komentar