Nonton Ayat-ayat Cinta 2, Apa Untungnya?
oleh Siti Mulyani
Ayat-ayat
Cinta 2, film yang dirilis pada 21 Desember 2017 ini menggugah saya untuk
menontonnya. Namun, ada juga yang menganggap remeh film yang menghabiskan budget terbesar dalam dunia perfilman
Indonesia ini. Bagaimana tidak, lokasi shooting
di wilayah yang memiliki tarif parkir terbesar itu benar-benar dibooking untuk shooting.
"Ayat-ayat
Cinta itu hanya mengedepankan poligami saja." begitu komentar BK (nama
samaran) ketika mendengar rencana saya untuk menonton film yang diangkat dari
novel best seller ini. Komentar ini seolah-olah
mengatakan bahwa menonton film Ayat-Ayat Cinta itu tidak ada untungnya.
Namun,
komentar itu sama sekali tidak mengurangi niat saya untuk tetap meluangkan
waktu dan meronggoh kumpulan receh yang sengaja saya sisihkan dari uang bulanan
untuk menonton film fenomenal tersebut.
Saya
'anak' sastra, saya cinta sastra dengan segala keindahan kata yang terkandung
di dalam setiap karya yang tercipta, dengan setiap sisi budaya yang disuguhkan melalui
adegan-adegan yang ditampilkan.
Dalam
kacamata saya, yang notabene sebagai anak sastra, film Ayat-ayat Cinta 2 ini
bukan sekedar film yang mengedepankan poligami saja. Film yang penulisnya sudah
saya salami dengan menyodorkan karya pertama saya, yaitu Antologi Puisi Ilalang
Sayang dalam acara Semarak Sastra Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Sultan
Maulana Hasanuddin Banten di aula Prof. Sjadeli Hasan pada tanggal 19 November
2017, adalah film yang dapat menjadi inspirasi bagi saya, dengan harapan, saya
sanggup memiliki karya se-viral
film ini, menjadi penulis yang diakui Nusantara seperti Kang Abik, penulis
novel dari film tersebut.
Mengapa
demikian? Karena menonton adalah kegiatan audio-visual
yang tidak hanya melibatkan mata sebagai alat untuk melihat (visual) dan
telinga untuk mendengar (audio). Akan tetapi, menonton juga melibatkan hati
untuk meresapi apa yang didengar dan dilihat, serta akal untuk menalar mana yang
termasuk ke dalam budaya suatu negara, mana yang termasuk ke dalam moral,
bagaimana si tokoh itu bisa menjadi sukses, apa saja yang dia lakukan, tindakan
apa saja yang pantas ditiru, sebaliknya tindakan apa saja yang tidak pantas
ditiru, sebagai wanita, sebagai mahasiswa terhadap dosen, sebagai perantau di
negeri orang, sebagai muslim di antara agama-agama lain, dan lain sebagainya.
Hal
ini dikemukakan oleh B. Rahmanto dalam bukunya yang berjudul Metode Pengajaran
Sastra, bahwa kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat
indra, penalaran, afektif, sosial dan religius. Indra meliputi penglihatan,
pendengaran, dan pengucapan. Penalaran berupa berfikir logis; ketepatan
interpretasi. Berbagai problem dan situasi yang disuguhkan di dalam karya
sastra juga dapat merangsang perasaan atau emosional seseorang. Kesadaran
sosial dengan memahami diri sendiri bahkan orang lain, serta unsur religi yang
banyak termuat di dalam sebuah karya.
Dari
semua kecakapan yang telah disebutkan di atas, sekurang-kurangnya 70% akan
didapatkan setelah menonton, khususnya menonton film Ayat-Ayat Cinta 2. Dengan
demikian, saya melihat bahwa menonton film Ayat-ayat Cinta 2 bukanlah hal yang
tidak menguntungkan. Selain mendapatkan manfaat-manfaat positif yang telah
diuraikan di atas, juga sebagai wujud apresiasi kita terhadap mahakarya yang
menyodorkan unsur-unsur religi.
"Apresiasi
itu penting. Karena teladan kita, Rasulullah, pun sering melakukan apresiasi
terhadap para sahabatnya. Oleh karena itu, mari kita sama-sama dukung dunia
perfilman Indonesia yang menghadirkan karya Islami, cukup dengan menyisihkan
sedikit dari uang saku kita. Karena sukses atau tidaknya sebuah film di layar
lebar, tergantung pada seberapa banyaknya penonton." dikutip dari orasi
Kang Abik dalam seminarnya di UIN Banten, 19 November 2017.
Saya
tambahkan "Sukses atau tidaknya generasi penerus sastra Nusantara,
tergantung pada seberapa sering dia mengapresiasi sebuah karya. Jangan mengaku
'anak' sastra jika tidak mengapresiasi sebuah karya. Tumpuan kesuksesan sastra
ada pada tangan anda, para akademisi dalam ruang lingkup sastra, mahasiswa,
dosen, kritikus, peneliti, bahkan penikmat belaka. Mari, kita bersama-sama
mengapresiasi film Ayat-ayat Cinta 2 ini, agar tidak ada lagi komentar yang
serupa yang menafikan keuntungan setelah menonton sebuah film. Ini tugas kita,
mempertahankan sastra dan mengembangkannya di Nusantara. Jika kita yang
berkewajiban saja sudah menganggap remeh, bagaimana masa depan sastra setelah
sastrawan hebat yang hidup di masa ini tiada."
Tangerang Selatan, 22 Desember 2017
Komentar
Posting Komentar